Pelik Amunisi Mematikan

Babanews.co

Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) menolak menanggapi pernyataan Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang menyebut bahwa amunisi pesanan Korps Brigade Mobil (Brimob) memiliki kemampuan luar biasa dan mematikan.

Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Setyo Wasisto memilih bungkam dan tidak mengomentari pernyataan yang dilontarkan Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal TNI Wuryanto di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (10/10).Setyo mengatakan.

Polri menghormati keputusan yng telah diambil oleh Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto dan meminta wartawan menanyakan perihal isu lain, seperti pengadaan senjata dan amunisi Persatuan Menembak dan Berburu Indonesia (Perbakin).“Saya menghormati Menko Polhukam.

Kalau (isu) yang selain soal senjata saya mau, kalau senjata Perbakin boleh,” kata Setyo di sela-sela acara Apel Kasatwil 2017 di Akademi Kepolisian, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (11/10).“Jadi apa yang sudah diputuskan Menko Polhukam, kami sangat menghormati,” imbuhnya.

Wuryanto sebelumnya mengatakan amunisi tajam yang dipesan oleh Korps Brigade Mobil Polri memiliki kemampuan luar biasa dan mematikan.

Dia mengatakan setidaknya ada dua keunggulan yang dimiliki amunisi tajam tersebut.Pertama, amunisi tersebut bisa meledak dua kali. “Meledak pertama, kemudian meledak yang kedua, dan menimbulkan pecahan-pecahan dari tubuh granat berupa logam kecil yang melukai maupun mematikan,

” kata Wuryanto di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (10/10).Keunggulan kedua, lanjut Wuryanto, amunisi tersebut bisa meledak sendiri tanpa ada impact atau benturan setelah 14-19 detik dilepaskan dari laras. “Jadi ini luar biasa. TNI sendiri sampai saat ini tidak punya senjata dengan kemampuan seperti itu,” ucap Wuryanto.

Wuryanto menjelaskan, amunisi tersebut biasanya digunakan untuk menghancurkan perkubuan. Dengan menggunakan amunisi tersebut, orang-orang yang ada di belakang perkubuan bisa langsung dihancurkan.

Sebanyak 280 pucuk senjata dan 5.932 amunisi untuk Korps Brimob Polri tertahan di Bandara Internasional Soekarno Hatta, Jumat (29/9). Senjata itu tersimpan dalam kotak kayu di area Cargo UNEX.Senjata itu dikabarkan belum memiliki rekomendasi dari Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI. Kemudian BAIS TNI dan Bea Cukai memeriksa senjata tersebut di Bandara Soekarno-Hatta.

Kini, ratusan pucuk senjata dan ribuan amunisi tersebut telah disimpan oleh TNI lantaran dinilai tak sesuai dengan spesifikasi kebutuhan Polri.

source : CNN Indonesia

Peluru Tajam Brimob

Babanews.co

5.932 amunisi Stand-alone Grenade Launcher (SAGL) yang dipesan Korps Brimob Polri dipindahkan ke gudang Mabes TNI.

Amunisi dititipkan karena masuk kategori amunisi tajam.”Di katalog sangat jelas dikatakan itu amunisi tajam.

Mempunyai radius mematikan 9 meter dan jarak capai 400 meter,” kata Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen Wuryanto kepada wartawan di Taman Ismail Marzuki, Jl Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (10/10/2017).Wuryanto menyebut amunisi yang jumlahnya 5.932 butir punya keistimewaan tersendiri.

Amunisi yang mematikan ini sudah dibawa ke gudang Mabes TNI, Senin (9/10) malam.”Setelah meledak pertama kemudian meledak yang kedua dan menimbulkan pecahan-pecahan dari tubuh granat itu berupa logam-logam kecil yang melukai ataupun mematikan. Kemudian granat ini pun bisa meledak sendiri tanpa benturan setelah 14-19 detik lepas dari laras. Jadi ini luar biasa,” papar Wuryanto.

Menurut Wuryanto, TNI hingga saat ini belum memiliki senjata yang punya kemampuan sama dengan senjata dan amunisi pesanan Brimob Polri.

Dia menegaskan penitipan amunisi tajam sudah sesuai kesepakatan yang diambil dalam rapat yang dipimpin Menko Polhukam Wiranto pada pekan lalu.

“Kita hanya menegakkan aturan yang berlaku. Amunisi seperti ini ditujukan untuk menghancurkan perkubuan. Jadi orang-orang di belakang perkubuan bisa dihancurkan dengan amunisi jenis ini,” kata Wuryanto.Pihak Polri sebelumnya memberikan keterangan mengenai amunisi SAGL yang dipesan.

Menurut Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto, amunisi tajam adalah amunisi yang mematikan. Sementara amunisi peluru tabur hanya bersifat melumpuhkan.”Peluru tajam itu berbeda dengan peluru tabur. Seperti ini granat asap dengan ini granat gas air mata, juga berbeda walau bentuknya sama. Jadi amunisi yang digunakan SAGL ada tiga, yaitu asap, gas air mata dan yang disebut tajam tadi, tajam itu hanya untuk mengejutkan dengan butiran kecil-kecil,” terang Setyo, Jumat (6/10).

source : detik